Saturday, February 7, 2015



M.I.D : Miracle in December

ilustrasi : www.huffingtonpost.com

            Perpisahan ini yang membuat kami terpisah oleh jarak & waktu. Aku seakan terombang-ambing di luasnya jagad raya dan tak tahu akan kemana lagi langkah kaki ini berjalan.
            Namaku Dina. Lebih lengkapnya Annisa Nurul Islam Maidina. Anak ke 3 dari 4 bersaudara. Aku terlahir seperti tanpa dinantikan. Mungkin inilah yang menjadi penyebab perpisahan ini. Enam tahun, bukan waktu yang sedikit dalam penantianku. Air mata ini akan selalu hadir menememaniku disaat aku mengenang masa-masa enam tahun yang lalu.
Jakarta, January 20th 2005
Kamu lagi ngapain?” tanya seorang perempuan kecil dengan beberapa makanan ringan di tangannya.
Nggak lagi ngapa-ngapain, Na,bohongku, menyembunyikan buku memori keluargaku.
Kita sama-sama ditinggalkan oleh Ibu, jadi tak perlu sedih, jangan takut sendiri. Aku sahabatmu, Kan?” katanya kembali menyangkal kebohonganku. Dia memang pandai melihat mana orang yang berbohong dan yang benar berkata jujur.
            Kinara. Sahabatku sejak kelas 4 SD. Dia pindahan dari Bandung. Dia mempunyai latar belakang yang sama sepertiku. Kita sama-sama keturunan Jepang, sama-sama hobi photographer dan sama-sama ditinggalkan oleh ibu. Mungkin hanya keyakinan kita yang berbeda. Aku tak tahu jelas apa alasan dia pindah, tapi sejak ibunya meninggal, dia jadi seperti ini.
Apa kau menganggap aku sahabatmu?”
“Iya, sahabat dekat,jawabnya dengan nada serius.
“Kalau begitu, berjanjilah akan selalu jadi sahabatku dalam waktu yang lama, jangan pernah lupa sama aku jika kamu mendapatkan susah ataupun senang. Janji?”  kataku sembali mengulurkan jari kelingkingku berharap dia akan ikut mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji,katanya singkat namun meyakinkan.
August, 16th 2006
            Secercah cahaya pagi berhasil membangunkanku dari indahnya pulau mimpiku. Sekolah baru, teman baru, seragam baru, serta dunia baru siap aku rasakan. Aku antusias untuk menyambut hari pertamaku ini setelah libur panjang. Kuraih HP ku di atas meja belajar. Kulihat terdapat 1 pesan masuk dari seseorang. Kinara.

          From : Kinara
“Kawan, aku tahu aku salah. Jujur aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku minta maaf, telah mengingkarimu. Ayah memaksaku untuk pergi ke Jepang. Aku berusaha menolak, tapi nihil. Ayah tetap bersiteguh membawaku. Maaf, beribu maaf aku katakan. Aku takkan pernah melupakanmu dan aku yakin kamu akan mendapat teman yang lebih baik dari aku. Doaku selalu menyertaimu.
Pesanku. Tetaplah tersenyum. Jadilah seperti Malaikat. Senyum,senyum dan tersenyum.

          Received:
            05:33:33pm
            Today                                                                                                                                     
Air mataku mulai menetes lagi. Tanpa berpikir panjang, kuambil jaket seadanya dan berlari menuju bandara. Aku mendengar dari kejauhan Abi memintaku untuk kembali. Tapi hal itu tak pernah kuhiraukan. Aku terus menambah kecepatan sepedaku agar cepat sampai di bandara.
Sesampainya di bandara, aku mencari sekeliling tempat di bandara, tapi nihil tak ada sama sekali sosok sahabatku itu. Akhirnya aku bertanya kepada petugas di bandara tersebut, dia mengatakan pesawat jurusan Jepang sudah berangkat 10 menit yang lalu. Seketika aku terduduk lemas di tengah keramaian orang. Aku kehilangan semuanya, gumamku disela tangisku.
            Tiba-tiba datang seorang perempuan paruh baya mendekatiku. “Ayo pulang, tidak ada gunanya kamu disini, menangisi seorang teman yang tak menganggapmu teman,katanya.
“Oma, jangan pernah sekali-kali oma berbicara seperti itu. Apa maksud Oma?” kataku.
“Sudahlah, kita selesaikan semua ini dirumah. Malu dilihat orang-orang,” kata seorang lelaki berparas tinggi dan berwajahkan arab. Dia Rayhan. Kakak laki-lakiku. Dia yang selalu mendukungku jika aku selalu dimarahi Abi ataupun Oma.
            Sesampainya di depan rumah aku semakin takut dan gemetaran. Aku takut Abi akan memarahiku,Gimana ini, Kak? Aku takut Abi marah?” Tanyaku ke kak Rayhan “Coba jelaskan saja semuanya, mungkin ini akan menjadi lebih baik,nasihatnya.
Benar saja perasaanku. Sesampainya di rumah, Abi sudah memasang wajah menakutkan.
“Dengar Dina. Abi tidak mau kamu menjadi seperti ini lagi. Apalagi kamu sampai mengejar dia ke bandara pula. Apa sudah tidak ada teman yang lain lagi ha?” kata Abi membentakku.
Aku baru merasakan Abi benar benar membentakku, baru kali ini Abi. Abi tahu, Ummi meninggalkan kita dan kakak kenapa? Jujur, sampai sekarang aku tak tahu alasannya. Aku tak tahu kalau yang memisahkan aku dengan mereka adalah Oma. Kenapa? Kenapa Oma juga jahat? Apa salahku? Dan sekarang, satu-satunya orang yang menjadi penyemangatku pergi. Aku benar-benar kehilangan semuanya,” kataku panjang lebar. Air mata ini semakin deras mengalir. Merasakan benar-benar runyam keadaan sekarang.
~2 Tahun Kemudian~
“ Suatu saat kamu pasti akan tahu. Belajarlah yang rajin agar kamu dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hanya kata itu yang masih teringat jelas di memori otakku. Dua tahun berlalu. Aku jadikan sekolahku sebagai ajang penemuan jati diriku. Aku berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Sebagian jiwaku hilang. Aku kehilangan diriku yang dulu. Tapi aku berjanji kepada Abi dan kepada diriku sendiri akan tetap bersungguh-sungguh dalam belajar untuk mendapat beasiswa sekolah di Jepang.
~3 tahun kemudian~
Osaka, Japan. August, 30th 2009
            Syukurku persembahkan kepada Allah SWT, Engkau telah mendengar doaku setiap malamnya. Aku sudah sampai di titik impianku. Inikah Osaka? Kota yang dulu menjadi idamanku?’ gumamku dalam hati menatap lurus ke depan indahnya Ibu Kota Jepang ini.
Sendai Ikuei Gakuen,Osaka, Japan. September, 01st 2009
            Kon’nichiwa, watashino namaeha DINA desu. Watashi wa Indoneshia kara kite imasu. Ni yorokoba tasukeru. Arigato gozaimashita.
Satu minggu telah aku lewati disini. Jujur, sekolahku ini tak terlalu beda dengan sekolahku dulu di Jakarta karena dulu SMP ku sekolah milik perusahaan Jepang juga. Yang membedakan hanya orang-orangnya saja. Disini, aku ikut ekstrakurikuler photography karena sejak dulu aku hobi memotret gambar.
September, 08th 2009
            Hari ini aku sengaja berangkat sekolah lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatu dalam pentas. Karena hari ini adalah hari Milad sekolah. Jadi diadakan event besar-besaran.
            Ketika aku berjalan di koridor sekolah, sosok itu. Jelas adanya sosok itu di depan mataku. Sosok yang sangat aku rindukan. Sosok yang dulu menghiasi hidupku. Terlihat dia sedang sibuk mencari sesuatu di lokernya.
“Long time no see!” kataku membuka percakapan dengannya. Dia terkejut sehingga membalikkan tubuhnya menghadapku.
Dare ga?” tanyanya kepadaku. Jelas terlihat di raut mukanya kalau dia benar-benar tak mengenaliku.
“Apakah ada yang berubah dari wajahku, sehingga kau tak mengenaliku lagi, Kina?” kataku yang lebih menekankan namanya karena sedari dulu yang memanggil namanya Kina hanya aku.
“Kenapa kamu disini? Sejak kapan? katanya mendadak kasar.
            Sepertinya dia sudah ingat siapa aku. Tapi anehnya kenapa dia seakan benci dengan kehadiranku.
“Apa maksudmu? Kenapa seakan kau membenciku ketika aku disini?” tanyaku terheran.
“Karena aku tak pernah mengharapkanmu datang kesini, rikai dekimasu ka!  katanya ketus lalu meninggalkanku sendirian dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dijawab secara logika.
            Kejadian tadi pagi masih jelas teringat di otakku. Apa maksud dari perkataan dia tadi. Apakah ini lelucon? Ataukah ini benar fakta? Entahlah. Pertanyaan itulah yang mengiang di otakku.
            Keesokan harinya aku mencoba mencari dan menunggu dia di tempat kemarin aku bertemu. Berhari-hari aku menunggunya tapi tetap tak ada. Lelah dengan penantian itu, aku mencoba cari tahu tentang kelas dia. Akhirnya aku tahu dimana kelas dia. Aku langsung bergegas mencarinya.
Aku bertemu lagi dengan sosok itu. Aku berusaha mengakrabkan lagi dengan dia. Aku berusaha bertanya tentang keadaan dia dan maksud dari perkataan dia kemarin. Tapi, dia memasang wajah benci dan marah. Dia menyuruhku menunggunya sepulang sekolah di taman belakang sekolah jika ingin bertanya dengan dia. ‘Apakah dia malu berteman denganku?’ entahlah.
Di taman belakang
Lama aku menunggu dia di sini. Sempat terlintas di pikirkanku, tentang apakah mungkin dia akan datang. Aku rasa dia tidak akan datang. Tak lama kemudian munculah seseorang yang aku tunggu.
Aku minta sama kamu, tolong jangan pernah temui aku lagi. Cukup sampai saat ini saja kita bertemu dan anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya,katanya spontan, lagi-lagi membuatku berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Tapi kenapa?” tanyaku.
“Tolong, aku mohon. Jika memang kau masih menganggapku sahabatmu, lakukanlah. Demi aku,jawabnya lalu pergi meninggalkanku.
            Aku seakan terlempar oleh batuan besar yang langsung membuatku tak berdaya. Apalagi ini? Kau benar-benar telah mengkhianatiku, Na. Jika memang ini yang kau inginkan, aku rela. Demi kebaikanmu,’ gumamku.
Di lain tempat
Maafkan aku Dina, bukannya aku benci denganmu. Tapi aku tak mau membuatmu tahu tentang kehidupanku sekarang. Karena itu pasti akan melukaimu’
~2 tahun kemudian~
            Selama 2 tahun ini, aku tak pernah lagi bertemu dengan Kina. Rindu memang dengan kawanku, tapi aku tak bisa apa-apa. Sampai sekarang, kelulusan itu datang. Syukurku persembahkan kepada Allah SWT karena namaku tertulis di papan pengumuman bagian teratas dengan peringkat 1. Aku langsung menghubungi Abi. Abi begitu senang mendengar berita itu dan memintaku segera pulang ke Indonesia.
            Keesokan harinya aku bergegas ke bandara untuk pulang ke negaraku tercinta sekaligus liburan. Ketika di bandara tersebut aku melihat seseorang yang tak lagi aneh. Kinara. Tapi anehnya dia sedang bersama dengan seorang wanita berjilbab. Sepertinya sangat aneh. Karena menurutku selama ini, dia tidak mempunyai teman muslim selain aku. Karena rasa penasaranku, aku mendekatinya.
“Kina, siapa dia?” tanyaku saat aku melihat dengan jelas sosok yang ada di samping Kina.
Karena tahu dengan keberadaanku sekarang, dia langsung menarikku pergi dari tempatnya.
“Aku kan sudah pernah bilang. Jangan pernah menemuiku lagi,katanya ketus.
Tapi tadi siapa? Jangan bilang dia,tanyaku yang mulai penasaran tetapi terhenti seketika.
Benar, seperti apa yang kamu lihat. Dia orang yang yang selama ini kamu cari. Aku sengaja menyembunyikan dia, aku juga sengaja menjauhimu, sengaja jahat padamu agar kamu tak mendekatiku. Karena semakin kamu mendekatiku, akan semakin sakit luka yang kamu rasakan, jawabnya terbata-bata disela tangisnya.
Aku mohon padamu. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di depannya. Dia sudah menjadi ibuku. Kau tahu, aku tak pernah mndapatkan kasih sayang ibu sejak kecil, jadi aku mohon jauhi diriku,lanjutnya memohon-mohon.
Tapi kamu juga harus tahu, aku merasakan penantian ini sangat lama. Aku harus merasakan tekanan batin ketika berhadapan dengan Abi juga Oma. Dan sekarang, tepat aku melihat orang yang benar-benar kunantikan ada di depan mataku, aku tak boleh berbuat apa-apa?” air mataku keluar lagi, merasakan hal ini.
“Kinara, no ie ni ikou, terdengar teriaknya memanggil Kinara
            Lalu dia pergi meninggalkanku. Kulihat sosok perempuan tadi yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan. Mungkin, aku harus bisa melupakan mama dan melihat mama tersenyum dengan orang lain. Mungkin.
Jakarta, September 06th 2011
            Jakarta, hello. Kita bertemu kembali setelah 3 tahun kepergianku. Tiga bulan lebih aku berada disini. Aku sengaja mengisi hari liburku di Jakarta bersama Abi dan Kakakku. Semua tentang mama telah aku ceritakan pada kakak. Tapi belum dengan Abi. Karena aku takut jika Abi tahu pasti aku tak boleh sekolah di Jepang.
            Beberapa hari yang lalu, ada 1 pesan masuk dari nomor asing. Aku tahu kalau itu nomor Jepang, tapi dari siapa aku belum tahu. Setelah aku buka ternyata isinya tentang Ummi. Jadi aku berfikir itu pasti Kinara. Disitu dia meminta maaf atas perilakunya selama 3 tahun, dan juga dia memintaku untuk pergi ke Jepang menemui Ummi. Awalnya aku merasa ini hanya bohong. Mana mungkin Kinara yang dulu bersiteguh tidak mau mempertemukan aku dan Ummi, sekarang jadi memaksaku. Tapi ternyata ini benar, Kinara sudah mengakui kalau dia salah. Dengan adanya itu, aku memilih berangkat ke Jepang 1 minggu lagi bersama Kakakku. Aku ingin kakak juga bisa melihat seseorang yang telah meninggalkannya dulu.
Tokyo, Japan. September 14th 2011
           Kini aku berada di Tokyo. Aku berharap Kinara benar-benar menepati janjinya. Hari ini dia mengabariku lagi. Dia mengatakan akan membuat kejutan buat Ummi di Hari Ibu dengan menghadirkanku dan kakak. Hari ini masih bulan September dan bulan Desember kan masih lama, tapi tak apa, aku rela menunggu demi mama.
December 22, 2011
            Akhir tahun, aku berharap ini akan menjadi suatu kenangan yang luar biasa hebatnya. Aku datang ketika Ummi bersama kakakku perempuan, adikku dan juga Kinara. Ummi tekejut bukan main ketika Kinara menyuruhku untuk menemui Ummi.
“Ummi, masih ingat siapa kita?” tanya Kak Rayhan dengan nada sedikit bergetar.
Seketika itu Ummi memeluk kita berdua, erat dan sangat erat. Ummi tak bisa menyembunyikan rasa sedih serta tangisnya. Aku tahu ini sangat mengharukan. Beberapa tahun penantianku kini terbayar sudah.
Kulihati sosok disamping Ummi. Dulu, seorang malaikat kecil yang lucu sekarang dia menjadi remaja yang cantik. Kuraih lalu kupeluk dia. Dalam lirihnya dia berkata padaku, Aku rindu kakak.
“Maaf, Dina. Bukan keinginanku untuk memisahkan kalian, tapi aku juga ingin merasakan punya mama,” kata Kinara.
Aku terkejut ketika melihat Kinara. Dia datang dengan pakaian yang panjang dan menutup aurat. Belum sempat aku bertanya dia sudah mengatakan terlebih dahulu bahwa dia sudah mualaf sejak Ummi menikah dengan Ayahnya. Aku semakin bangga pada Ummi, dia berhasil membuat sahabatku berada di jalan yang benar.
“Mama, hari ini aku sengaja mempertemukan kalian agar kita bisa bersama-sama merayakan Hari Ibu, karena hari ini mamaku adalah mamamu juga. Kita saudara, Dina,kata Kinara. Aku melihat sebuah kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah Kinara.
Kina wa, subete no tame ni arigato gozaimashita,” kataku sambil memeluknya.
Tiba-tiba kembang api terbentuk di angkasa. Pemandangan yang sangat menarik. Kami semua menikmati kebersamaan yang baru ini. Sebuah keluarga baru yang baru saja aku rasakan.


Karya  : Yu Anita N.V
Editor : Alfin Ni’maturrohmah


1 komentar:

  1. Bagus ceritanya, tapi sayang latar waktunya terlalu panjang. Konsistensi bahasanya juga. kalau teksnya bahasa Indonesia, ya penanda waktunya pakai Indonesia juga.

    ReplyDelete